Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PENYIMPANGAN DALAM PROSES PENGUKURAN



Pengukuran adalah proses dimana identifikasi tiga cakupan, yaitu benda yang diukur, alat ukur dan orang atau operator yang mengukur. Dalam proses pengukuran tidak mungkin mengahsilkan ukuran yang benar. Tiga cakupan ini diakui banyak ketidaksempurnaan, maka dalam setiap proses pengukuran hasilnya tidak akan mendapatkan nilai yang absolut. Kesalahan dalam pengukuran = Hasil Benda yang Diukur - Hasil Ukuran Benda yang Sebenarnya. Kesalahan pengukuran dapat dibedakan secara garis besar menjadi absolute error dan relative error.

Absolute Error 

Jenis kesalahan ini dibedakan menjadi dua diantaranya:

- True Absolute Error, yaitu perbedaan secara aljabar antara hasil pengukuran dengan nilai konvensional sebenarnya dari sekian banyak yang diukur. Jadi mutlak kesalahan tersebut selisih antara nilai ukur keseluruhan dengan nilai yang sebenarnya.

- Apparent Absolute Error, yaitu selisih serangkaian pengukuran dengan rata-rata hasil ukur . atau dengan kata lain misalkan kita mengukur lima kali kemudian rata-rata lima kali pengukuran tersebut dibuat selisih pada satu pengukuran saja.

Relative Error

Secara sederhana kesalahan ini diartikan sebagai hasil bagi antara kesalahan absolut dengan salah satu pembanding. Pemabanding tersebut apakah nilai konvensional sebenarnya, atau nilai rata-rata hasil pengukuran.

Kesalahan selalu ada yaitu dimana hasil pemgukupen berbeda dengan aktual yang sedang kita ukur.

Faktor-faktor yang menyebabkan proses pengukuran tidak teliti dan tepat diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Alat ukur

Alat ukuran yang kita gunakan juga harus benar-benar bebas dari keausan, perawatan nya baik sehingga tidak menimbulkan sifat-sifat jelek misalnya korosi. Inti dari semuanya ini adalah sebuah alat ukur harus di kalibrasi baik itu alat ukur baru atau sudah lama.

2. Benda Ukur


Benda dapat mengalami perubahan bentuk (deformasi) baik itu ketika terkena suhu panas atau benturan dengan benda lain. Maka dalam proses pengukuran yang mudah memuai harus dilakukan proses oengukupen dalam suhu yang memadai ataupun juga benda yang akan kita ukur jangan disimpan tumpang tindih sehingga mengalami deformasi dan ukuran tidak sesuai gambar.

3. Posisi pengukuran

Garis ukur harus sejajar dan berimpitan sehingga proses pengukuran benar miring sedikit saja hasilnya akan berbeda dengan ukuran sebenarnya.

4. Pengaruh Lingkungan


Lingkungan sangat berpengaruh kita ambil contoh penerangan, jika sebuah shop metrologi ruangannya jelek dalam pencahayaannya bisa mengakibatkan mata salah melihat angka ukuran, kemudian lingkungan yang berdebu mengakibatkan benda yang diukur dan alat ukur tersebut mengotori sensor alat ukur atau benda ukur.

Kemudian getaran dari sebuah mesin mengakibatkan gangguan terhadap pengukuran benda sehingga sensor yang sensitif mengacaukan proses pengukuran.

5. Skill Operator Pengukur

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dua orang salah dalam proses pengukuran diantaranya :

1. Pengalaman dalam praktek metrologi industri.

2. Kewaspadaan atau kehati-hatian dalam setiap sumber  penyimpangan dan dapat dihindari.

3. Harus mengetahui sifat dan cara kerja alat ukur.

4. Harus mampu menganalisa persoalan pengukuran.

Jika keempat faktor diatas tidak terpenuhi kemungkinan kesalahan pengukuran dapat terjadi.

Secara garis besar berikut adalah macam-macam alat ukur;

A. Alat Ukur Linier Langsung

1. Mistar ukur / steel rule

Resolusi     : 1 mm atau 0.5 mm (specialized rule)
Skala          : utama
Digunakan untuk pengukuran dengan kecermatan rendah.

2. Vernier Caliper

Resolusi     : 0.05 mm atau 0.02 mm (specialized Caliper)
Skala          : utama dan nonius

Digunakan untuk pengukuran dengan kecermatan menengah.

3. Vernier Depth Gauge

Digunakan untuk mengukur titik center lingkaran.

4. Vernier height Gauge

Digunakan untuk mengukur ketinggian benda keras dari dasar ke arah vertikal.

5. Inside Micrometer

Resolusi : 10 mikrometer
Skala       : utama - nonius

Digunakan untuk pengukuran dengan kecermatan tinggi.

6. Micrometer

Resolusi : 10 mikrometer - 5 mikrometer - 1 mikrometer

Skala      : utama - nonius 1 - nonius 2

Digunakan untuk pengukuran dengan kecermatan tinggi.

B. Alat Ukur Linier Tak Langsung

1. Block Gauge

Sebagai alat ukur standar / atau pembanding dengan ketilitian sesuai dengan klas 01 - 0 - 1 - 2 - 3 dalam standar ISO. Digunakan sebagai pembanding kalibrasi alat ukur

2. Dial Indicator

Resolusi : 10 mikrometer - 5 mikrometer - 2 mikrometer
Skala      : putaran utama

Digunakan sebagai pembanding dengan kecermatan tinggi.

3. Limit Gauge

Untuk memeriksa objek ukur dalam jumlah yang banyak dengan ketelitian yang tinggi dan dapat secara langsung ditentukan apakah ukuran masih berada dalam daerah toleransi.

Tidak ada skala penunjuk ukuran. Jenis-jenis limit gauge :
a. Hole Gauge
b. Snap Gauge
c. Internal - External Taper Gauge
d. Thread Gauge

3. Alat Ukur Sudut

1. Bevel Protector

Resolusi : 5 minutes ( 1/ 60 derajat )
Skala      : utama dan nonius

Digunakan untuk mengukur sudut dengan kecermatan menengah.

2. Profile Projectore

Resolusi : 5 minutes dan 0.01 mm

Digunakan untuk mengukur bentuk / profil melalui cahaya yang diproyeksikan dengan kecermatan menengah.



Post a Comment for "PENYIMPANGAN DALAM PROSES PENGUKURAN"